Perang dagang yang mulai mengganggu kestabilan
ekonomi global menjadi musuh utama penguatan rupiah. Mengutip Bloomberg di pasar
spot, Senin (3/9) rupiah tercatat ditutup melemah 0,71% ke Rp 14.815 per dollar
AS.
Analis Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah hingga kini terus melemah karena pelaku pasar khawatir dengan perang dagang yang sudah mengganggu kestabilan ekonomi global. Lihat saja, mata uang Argentina, yakni peso dan mata uang Turki, yakni lira juga turut melemah. "Dua negara ini jadi acuan bahwa perekonomian global sudah mulai goyang," kata Dini, Senin (3/9).
Apalagi, kondisi perekonomian China juga terus tunjukkkan pelemahan. Salah satu data ekonomi China, yakni data laju investasi anjlok ke rekor terendah hingga Juli 2018. Sementara, pertumbuhan penjualan ritel juga melambat.
Analis Monex Investindo Futures Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah hingga kini terus melemah karena pelaku pasar khawatir dengan perang dagang yang sudah mengganggu kestabilan ekonomi global. Lihat saja, mata uang Argentina, yakni peso dan mata uang Turki, yakni lira juga turut melemah. "Dua negara ini jadi acuan bahwa perekonomian global sudah mulai goyang," kata Dini, Senin (3/9).
Apalagi, kondisi perekonomian China juga terus tunjukkkan pelemahan. Salah satu data ekonomi China, yakni data laju investasi anjlok ke rekor terendah hingga Juli 2018. Sementara, pertumbuhan penjualan ritel juga melambat.
Perekonomian China juga makin tertekan dengan
adanya rencana Presiden AS, Donald Trump yang akan mengenakan tarif baru antara
10%-20% terhadap US$ 200 miliar produk impor China.
"Ancaman bertambah dengan adanya kenaikan tarif impor AS ke China, sekarang saja perekonomian China sudah melemah apalagi nanti setelah ada tarif impor tambahan," kata Dini.
Pengaruh sentimen global itulah yang membuat pelaku pasar khawatir dan cenderung melindungi aset investasi mereka dengan mengoleksi dollar AS dan emas sebagai aset safe haven.
Pelemahan rupiah nyatanya tidak hanya terjadi terhadap dollar AS melainkan beberapa mata uang asia. Misalnya, Rabu (29/8) kurs dollar Singapura mencapai Rp 10.738 per dollar Singapura. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa kurs mata uang Singapura terhadap rupiah.
"Ancaman bertambah dengan adanya kenaikan tarif impor AS ke China, sekarang saja perekonomian China sudah melemah apalagi nanti setelah ada tarif impor tambahan," kata Dini.
Pengaruh sentimen global itulah yang membuat pelaku pasar khawatir dan cenderung melindungi aset investasi mereka dengan mengoleksi dollar AS dan emas sebagai aset safe haven.
Pelemahan rupiah nyatanya tidak hanya terjadi terhadap dollar AS melainkan beberapa mata uang asia. Misalnya, Rabu (29/8) kurs dollar Singapura mencapai Rp 10.738 per dollar Singapura. Ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa kurs mata uang Singapura terhadap rupiah.
Dini mengatakan ketidakstabilan ekonomi global masih menjadi
penyebab rupiah jadi kurang diminati pelaku pasar. "Investor cenderung meninggalkan aset berisiko
dan berdampak ke rupiah yang tidak selikuid mata uang asia lain," kata
Dini. Menjadi riskan memang bila investor mengendap di mata uang negara
berkembang yang sangat sensitif pada sentimen pasar, seperti rupiah. Bahkan
rilis data ekonomi yang positif pun belum berpengaruh besar pada penguatan
rupiah. Hal tersebut membuat investor menjauhi rupiah. Padahal, data ekonomi
Indonesia cukup stabil bahkan di Agustus 2018 terjadi deflasi 0,05%.
Dini berpandangan, sentimen dalam negeri meski data ekonomi
stabil, tetapi pemerintah tampaknya belum ada upaya tambahan dalam menghadapi
ketidakstabilan perekonomian global yang bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah.
"Belum ada intervensi dan upaya tambahan
dari pemerintah, ya belum bisa menaikkan minat investor balik ke aset
rupiah," kata Dini.
Namun, Dini berpandangan rupiah saat ini belum underpriced.
Potensi terjadinya koreksi dan penguatan rupiah masih ada secara terbatas. Jika
dilihat secara teknikal rupiah bisa menguat karena saat ini sudah capai level
terendahnya. Untuk jangka pendek,
Dini memproyeksikan rupiah masih akan melemah di rentang Rp 14.780 per dollar
AS hingga Rp 14.825 per dollar AS.
Sementara, untuk jangka menengah hingga akhir tahun, Dini
memproyeksikan pergerakan rupiah cenderung sideways karena pelaku pasar wait
and see merespon kenaikan suku bunga The Fed. Jangka menengah, Dini
memproyeksikan rupiah berada direntang Rp 14.725 per dollar AS hingga Rp 14.870
per dollar AS.
Sedangkan, untuk jangka panjang Dini berharap ada tindakan
priced in setelah suku bunga The Fed naik di akhir tahun, sehingga rupiah
berpeluang naik. Jangka panjang, Dini proyeksikan rupiah berada direntang Rp
14.600 per dollar AS hingga Rp 14.900 per dollar AS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar